HARIANEXPRESS, JAKARTA – Pencari kerja perlu memeriksa identitas perusahaan, alamat surel, proses rekrutmen, dan permintaan pembayaran sebelum mengirim dokumen pribadi atau menerima tawaran pekerjaan.
Lowongan kerja palsu tidak selalu tampil dengan bahasa berantakan atau nama perusahaan asing. Pelaku dapat menyalin logo, alamat kantor, profil karyawan, hingga format surat resmi untuk menyamar sebagai perusahaan yang dikenal masyarakat.
Tujuannya beragam, mulai dari mengambil uang dengan dalih biaya administrasi, memperoleh dokumen identitas, membajak akun, hingga mengarahkan korban ke pekerjaan fiktif atau tindak pidana perdagangan orang.
Kementerian Ketenagakerjaan menyebut penipuan rekrutmen biasanya mengincar uang, informasi pribadi, atau keduanya. Modusnya mencakup biaya pendaftaran, phishing, tawaran kerja jarak jauh, dan pekerjaan yang sebenarnya tidak pernah ada.
1. Pelamar Diminta Membayar di Awal
Permintaan transfer menjadi tanda bahaya paling jelas, terutama apabila perekrut meminta uang masuk ke rekening pribadi.
Pelaku biasanya menggunakan alasan:
- Biaya administrasi pendaftaran
- Biaya pemeriksaan kesehatan
- Biaya pelatihan
- Pembelian seragam atau alat kerja
- Biaya akomodasi
- Tiket perjalanan menuju lokasi wawancara
- Uang jaminan
- Deposit untuk membuka tugas
- Biaya aktivasi akun karyawan
- Dana yang dijanjikan akan diganti setelah bekerja
Kemnaker mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan uang untuk memperoleh pekerjaan. Pelamar perlu berhenti dan melakukan verifikasi jika perekrut meminta biaya sebagai syarat melanjutkan seleksi.
Permintaan pembayaran tidak otomatis membuktikan seluruh proses sebagai penipuan, khususnya pada layanan atau sertifikasi tertentu yang memiliki aturan tersendiri. Namun, pelamar tidak boleh mentransfer sebelum memeriksa dasar biaya, badan hukum penerima, dan ketentuan resminya secara mandiri.
Jangan menggunakan nomor telepon atau tautan yang diberikan perekrut untuk melakukan verifikasi. Cari sendiri situs dan kontak resmi perusahaan.
2. Tawaran Datang Tanpa Lamaran atau Wawancara
Waspadai pesan yang langsung menyatakan pelamar diterima meskipun tidak pernah mengirim lamaran, menjalani tes, atau mengikuti wawancara.
Pelaku dapat mengaku menemukan riwayat hidup korban melalui situs pencari kerja. Mereka kemudian menawarkan posisi dengan gaji besar dan meminta korban segera mengisi formulir atau menyerahkan dokumen.
Tawaran kerja tanpa proses penilaian yang masuk akal perlu diperiksa lebih lanjut. Perusahaan umumnya perlu memastikan pengalaman, kemampuan, identitas, dan kesesuaian kandidat sebelum mengeluarkan penawaran resmi.
Proses yang sangat cepat belum tentu palsu. Usaha kecil atau pekerjaan sementara mungkin merekrut secara sederhana. Masalah muncul ketika kecepatan tersebut disertai desakan mengirim uang, kode OTP, data kartu, atau dokumen sensitif.
3. Deskripsi Pekerjaan Tidak Jelas
Lowongan asli semestinya memberikan gambaran mengenai posisi, tanggung jawab, kualifikasi, tempat kerja, dan cara melamar.
Waspadai iklan yang hanya memakai kalimat seperti:
- Kerja mudah dari rumah
- Cukup memakai ponsel
- Penghasilan besar setiap hari
- Tanpa pengalaman langsung diterima
- Jam kerja bebas dengan keuntungan pasti
- Tugas ringan dan bonus tidak terbatas
Gaji tinggi bukan bukti tunggal bahwa lowongan itu palsu. Pelamar perlu membandingkannya dengan tingkat pengalaman, tanggung jawab, industri, lokasi, dan standar upah posisi serupa.
Tawaran menjadi semakin mencurigakan ketika menjanjikan penghasilan jauh di atas kewajaran tanpa menjelaskan pekerjaan yang harus dilakukan.
4. Perekrut Memakai Identitas yang Sulit Diverifikasi
Periksa nama lengkap perekrut, jabatan, alamat surel, nomor telepon, dan hubungannya dengan perusahaan.
Alamat surel yang memakai domain resmi perusahaan dapat meningkatkan kredibilitas, tetapi belum menjadi jaminan mutlak. Pelaku dapat membuat domain tiruan yang hanya berbeda satu huruf atau menggunakan alamat dengan tampilan menyerupai perusahaan asli.
Sebaliknya, penggunaan Gmail atau layanan surel umum juga tidak otomatis membuktikan penipuan. Sebagian usaha kecil belum memiliki domain sendiri. Pelamar perlu menilai beberapa indikator sekaligus.
Lakukan pemeriksaan berikut:
- Cocokkan domain surel dengan alamat situs perusahaan.
- Periksa ejaan nama domain dengan teliti.
- Cari nama perekrut melalui situs atau akun profesional perusahaan.
- Hubungi nomor perusahaan yang ditemukan secara mandiri.
- Tanyakan apakah perusahaan sedang membuka posisi tersebut.
- Pastikan alamat wawancara benar-benar berkaitan dengan perusahaan.
Jangan hanya mempercayai foto profil, tanda pengenal digital, stempel, atau surat panggilan. Seluruh materi itu dapat disalin dan diedit.
5. Pelamar Didesak Mengambil Keputusan
Penipu sering menciptakan tekanan waktu agar korban tidak sempat memeriksa informasi.
Mereka dapat menyatakan kuota hampir habis, wawancara hanya tersedia pada hari itu, atau pembayaran harus masuk dalam hitungan menit. Pelaku juga mungkin mengancam akan membatalkan kelulusan jika korban bertanya terlalu banyak.
Perusahaan dapat memiliki tenggat rekrutmen yang ketat. Namun, perekrut yang sah seharusnya mampu menjelaskan proses, memberikan waktu membaca dokumen, serta menjawab permintaan verifikasi secara wajar.
Hentikan komunikasi sementara jika perekrut melarang pelamar menghubungi kantor pusat, memeriksa perusahaan, atau berdiskusi dengan keluarga.
6. Rekrutmen Berubah Menjadi Tugas Berbayar
Modus pekerjaan paruh waktu biasanya bermula dari tugas sederhana, seperti menyukai video, menilai produk, menonton film, atau membantu transaksi penjualan.
Pelaku terkadang memberikan komisi kecil pada tahap awal untuk membangun kepercayaan. Setelah itu, korban diminta menyetor deposit yang lebih besar agar dapat membuka tugas berikutnya atau menarik saldo.
Pada Mei 2026, Satgas PASTI menghentikan kegiatan YUDIA yang diduga menawarkan pekerjaan paruh waktu dengan skema deposit, tugas menonton drama, pembelian hak cipta film, dan perekrutan anggota baru.
Pekerjaan yang sah membayar pekerja atas pekerjaan yang dilakukan. Skema yang mengharuskan pekerja terus menyetor uang agar dapat menerima komisi memiliki risiko penipuan yang tinggi.
7. Perekrut Meminta Data Pribadi Terlalu Dini
Riwayat hidup umumnya memuat nama, nomor kontak, pendidikan, dan pengalaman kerja. Namun, tidak semua data pribadi perlu diberikan pada tahap awal.
Waspadai permintaan terhadap:
- Foto KTP dan kartu keluarga
- Foto kartu debit atau kredit
- Nomor kartu dan kode keamanan
- PIN
- Kode OTP
- Kata sandi
- Foto buku tabungan lengkap
- Video wajah sambil memegang identitas
- Nama ibu kandung
- Akses ke akun perbankan
- Pemasangan aplikasi akses jarak jauh
Perusahaan mungkin memerlukan KTP, NPWP, BPJS, atau rekening setelah kandidat diterima dan memasuki proses administrasi. Pelamar tetap harus memastikan identitas perusahaan, dasar permintaan, dan saluran pengiriman dokumen sebelum menyerahkannya.
PIN, OTP, kata sandi, serta kode keamanan kartu tidak diperlukan dalam proses rekrutmen.
8. Tautan dan Berkas Mengarah ke Situs Mencurigakan
Jangan langsung membuka tautan yang dikirim melalui WhatsApp, Telegram, SMS, atau surel. Periksa alamatnya tanpa menekan tautan tersebut.
Situs palsu dapat memakai nama perusahaan terkenal, tetapi domainnya memiliki tambahan huruf, tanda hubung, atau ekstensi berbeda. Halaman tersebut mungkin meminta pelamar masuk menggunakan akun Google, mengunggah identitas, atau memasukkan data keuangan.
Hindari memasang berkas APK yang dikirim perekrut. Aplikasi dari luar toko resmi dapat meminta akses terhadap SMS, notifikasi, kontak, layar, dan layanan aksesibilitas.
Jika terlanjur memasang aplikasi mencurigakan, putuskan koneksi internet, hapus aplikasinya, periksa izin perangkat, ganti kata sandi melalui perangkat lain yang aman, dan hubungi bank jika terdapat risiko terhadap rekening.
9. Cara Memeriksa Lowongan Sebelum Melamar
Gunakan pemeriksaan berlapis karena satu tanda saja belum cukup menentukan keaslian lowongan.
Periksa kanal resmi perusahaan
Cari halaman karier pada situs resmi perusahaan. Cocokkan nama posisi, lokasi, persyaratan, serta batas akhir pendaftaran.
Hubungi perusahaan secara mandiri
Gunakan nomor telepon atau alamat surel yang tercantum pada situs resmi, bukan kontak dalam pesan perekrut.
Telusuri alamat kantor
Periksa apakah alamat wawancara berkaitan dengan perusahaan. Wawancara di hotel, gedung pertemuan, atau kantor vendor tidak selalu palsu, tetapi perusahaan harus mampu mengonfirmasinya.
Periksa jejak digital perekrut
Cari nama, jabatan, dan riwayat profesional perekrut. Akun baru, koneksi sangat sedikit, atau profil yang menyalin identitas orang lain patut dicurigai.
Gunakan portal ketenagakerjaan
Pelamar dapat membandingkan informasi melalui Karirhub atau Pasker ID milik Kemnaker serta platform pencari kerja yang memiliki sistem pelaporan.
Kemunculan lowongan pada suatu platform tetap tidak menggantikan verifikasi langsung karena pelaku dapat mencoba mengunggah informasi palsu melalui layanan yang sah.
10. Cara Melaporkan Lowongan Kerja Palsu
Kemnaker menyediakan fasilitas Lapor Loker melalui Pasker ID. Formulirnya menerima informasi berupa alamat surel terduga pelaku, nama perusahaan yang dicatut, nama perekrut, nomor kontak, platform sumber, tautan, kronologi, dan bukti pendukung.
Sebelum melapor, simpan:
- Tangkapan layar iklan
- Tautan lowongan
- Percakapan dengan perekrut
- Alamat surel pengirim
- Nomor telepon
- Surat panggilan
- Nomor rekening
- Bukti transfer
- Berkas atau aplikasi yang dikirim
- Kronologi beserta tanggal dan waktu
Korban yang sudah mentransfer uang perlu segera menghubungi bank, melapor melalui https://iasc.ojk.go.id/, dan membuat laporan polisi. Satgas PASTI menyatakan korban penipuan transaksi keuangan dapat memakai IASC untuk mendukung upaya pemblokiran rekening pelaku secara cepat.
Apabila tawaran kerja luar negeri mengandung penahanan dokumen, pemberangkatan tidak resmi, ancaman, atau eksploitasi, calon pekerja harus menghentikan proses dan melapor kepada kepolisian serta instansi ketenagakerjaan.


